Bismillaahirrohmaanirrohiim ...
“Jiwa MAKE UP Wirausaha”
Sekian banyak manusia di dunia, hanya sebagian berwarganegara Indonesia. Sekian banyak warga negara Indonesia, hanya sebagian yang mencintai Indonesia. Dari sekian yang mengklaim mencintai Indonesia, hanya sebagian yang mengaplikasikannya, dan dari sekian yang mengaplikasikannya, hanya sebagian yang berpotensi mengembangkan, bahkan mempertahankan suatu sumber daya yang tengah disibukkan oleh persaingan.
Dalam era globalisasi saat ini, setiap individu dituntut untuk mengetahui keberadaan peluang berwirausaha. Betapa tidak, dampak globalisasi ekonomi hampir menyentuh semua lapisan masyarakat. Kerenggangan sosial yang semakin besar antara kalangan atas dengan kalangan bawah, meningkatnya volume produk-produk impor masuk ke dalam pasar dalam negeri, berkurangnya ekspor, tekanan inflasi, PHK yang tak terkendali, tenaga kerja merosot, kemiskinan semakin melarat, serta lapangan kerja yang semakin sempit, merupakan sebagian kecil dari pengaruh ekonomi global.
Bersyukurlah manusia sebagai makhluk yang dibekali akal pikiran, kiranya menindak lanjuti berbagai dampak yang kompleks tersebut. Indonesia kaya akan sumber daya yang melimpah ruah, sebagai manusia yang memiliki akal pastinya enggan miskin di negara yang kaya ini. Bayangkan pula dengan otak ini, ternyata dapat menciptakan ide-ide kreatif, usaha membuka sedikit demi sedikit celah jendela masa depan yang lebih cerah.
Ide-ide kreatif kemudian di tuangkan dalam suatu wirausaha, yang nantinya menyuguhkan produk-produk berkualitas, mempunyai daya saing tinggi serta dapat dimanfaatkan sebagai sumber devisa negara. Adanya sarana wirausaha berbasis kreatifitas, memberikan peluang besar bagi masyarakat dalam mengembangkan kreasi-kreasi mereka. Terlebih talenta yang mereka miliki, berpotensi melahirkan karya-karya andalan yang mempunyai nilai jual dan bermanfaat bagi orang lain.
Namun, realita memperlihatkan tak sedikit masyarakat belum sepenuhnya menyadari akan peran kewirausahaan bervisi kreatifitas atau industri. Disamping itu, kurangnya minat dan belum jelinya menemukan peluang usaha yang tersedia. Sangat disayangkan apabila potensi-potensi akal berupa ide yang mereka miliki, menganggur begitu saja tanpa membuahkan hasil dan keuntungan. Padahal di sisi lain, mereka memiliki tujuan hidup untuk memenuhi kebutuhan mereka yang tidak terbatas.
Sosialisasi dan pelatihan-pelatihan sekiranya dapat mengawali kegiatan wirausaha. Pemahaman serta pelatihan terkait dunia wirausaha yang akan mereka geluti, yakni menentukan sektor-sektor bervisi industri sesuai bakat yang dapat mereka gali di bidang tertentu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri ekonomi kreatif terbagi atas 14 subsektor yakni architecture, design, fashion, film, video,& fotografi, kerajinan, software & computer services, music, art & antiques markets, publishing, advertising, interactive software, riset & pengembangan, seni pertunjukan, dan broadcasting.( Sumber : www.depdag.go.id )
Berdasarkan subsektor tersebut maka dibutuhkan strategi pengembangan. Tak lain adanya karakteristik yang bersifat koheren pada subsektor tersebut, baik dari komponen sumber daya manusia, maupun substansi yang harus di kembangkan. Ekonomi kreatif global diprediksi tumbuh 5% per tahun, akan berkembang dari US$ 2,2triliun pada Januari 2000 menjadi US$6, 1 triliun tahun 2020.
Melalui sarana budaya kewirausahaan sebagai sarana untuk mengembangkan subsektor yang tersedia, diperlukan jiwa-jiwa wirausaha dalam mewujudkan perkembangannya. Sikap yang sebaiknya ditanamkan yakni prinsip MAKE UP. Sudah menjadi tabiat sekelompok orang terutama kaum wanita menggunakan make up untuk merawat wajah dan anggota tubuhnya agar terlihat memukau. Para produsen pun berkejar-kejaran mengeluarkan produk tersebut demi memenuhi demand (permintaan) konsumen yang mengiming-imingi janji kualitas dan kuantitas yang menggiurkan bagi produsen. Namun, make up disini bukanlah alat kosmetik kecantikan yang ada pada umumnya. Melainkan MAKE UP yakni Mandiri, Antisipatif, Kreatif, Energik, menuju Produktif. Prinsip MAKE UP inilah yang di harapkan dapat menampilkan wajah bintang kewirausahaan yang gemilang.
Mandiri + Antisipatif + Kreatif + Energik = Produktif -> Visi Wirausaha
Dari struktur tersebut, budaya kewirausahaan di bentuk dengan sikap kemandirian. Mandiri membangun pribadi hidup yang lebih baik. Mencari penghasilan dan keuntungan agar tidak menjadi benalu bagi orang lain. Demikian juga suatu negara, sebaiknya tidak terlalu bergantung dengan negara lain. Meskipun hubungan internasional, baik yang berhubungan dengan kerjasama bilateral, multilateral, regional, maupun kerjasama antar regional yang di anggap sangat penting oleh para aliran liberalis, yang berpeluang mendapatkan keuntungan dari kolaborasi tersebut. Namun, sebaiknya para eksportir maupun importir bersifat selektif dalam mengekspor produk-produk dalam negeri maupun mengimpor produk-produk dari luar negeri.
Berjiwa antisipatif berarti berpotensi menampung segala butir-butir penghalang dengan mengantisipasi hambatan-hambatan wirausaha untuk selanjutnya di filter secara baik dan tepat, serta membuang ampas-ampas berbau negatif.
Kreatif dalam menciptakan berbagai karya. Barang-barang yang di anggap tidak berguna di kacamata masyarakat, namun dari tangan-tangan kreatifitas menyulap barang tersebut sehingga menjelma menjadi produk-produk memukau yang memiliki nilai tambah, bahkan mempunyai daya saing tinggi.
Suatu inspirasi tak akan berfaedah ,tanpa adanya aplikasi. Energik dengan daya kerja, sangat di butuhkan dalam rangka merealisasikannya. Kekuatan yang kuat disertai semangat yang tinggi merupakan kunci keberhasilan terbesar dibanding hanya sekedar berinspirasi atau berteori.
Esensi dari visi budaya kewirausahaan, yakni budaya yang berpotensi menghasilkan produk-produk berkualitas, berkuantitas tinggi, dan pastinya dapat bermanfaat. Produk-produk kreatif yang berasal dari orang-orang kreatif mampu mengantarkan citra positif dan identitas bangsa tak lagi memudar.
Suksesnya kewirausahaan, tak sesukses tanpa adanya pengaruh yang besar pada perekonomian negara. Namun, keidealan ini bukan berarti setiap usaha mutlak memberikan konstribusi yang di harapkan. Pada kenyataannya, banyak faktor-faktor penghalang yang mendominasi suatu usaha.
Dengan prinsip MAKE UP, setidaknya bisa ditananamkan pada generasi penerus bangsa, terutama pada perspektif sebagian orang yang menganggap dunia bisnis terdengar extreme di telinga mereka.
Dunia bisnis tidaklah mengenal usia, siapapun bisa menyentuhnya dan berpenghasilan menakjubkan hanya dengan modal keberanian dan tekad yang kuat. Sebut saja Andina Nabila Irvani, mahasiswi desain komunikasi visual yang tengah berusia 19 tahun, pendapatannya mencapai $1,5-2 juta yang bergelut di perusahaan spotlight bersama kakaknya membuka usaha poited shoes yang akan dikembangkan untuk pointed shirt dan pointed bag. Ini merupakan salah satu cerita pelaku kreatif dan masih banyak lagi pelaku-pelaku kreatif yang lainnya seperti Wahyu Aditya(29 tahun), Aziz Setyawijaya(19 tahun), Malarianti Yulianggi(19 tahun), dan banyak lagi yang lain ( http://feksi.wordpress.com )
Mereka semua hanya manusia seperti kita. Hanya saja, mereka memiliki prinsip MAKE UP yang membuat mereka beda. Setidaknya pelaku-pelaku kreatif tersebut bisa memotivasi masing-masing individu untuk menjadi pelaku-pelaku kreatif berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar